Category: Ilmu Budaya Dasar


BUDAYA JAWA BARAT
SUKU SUNDA

Jawa Barat adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Jawa. Provinsi ini terletak di sebelah DKI Jakarta sehingga banyak pendatang yang menetap di provinsi ini. Ibu kotanya ialah Bandung. awa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Kerana letaknya yang berdekatan dengan ibu kota negara maka hampir seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia terdapat di provinsi ini. 65% penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda yang merupakan penduduk asli provinsi ini. Suku lainnya adalah Suku Jawa yang banyak dijumpai di daerah bagian utara Jawa Barat, Suku Betawi banyak mendiami daerah bagian barat yang bersempadan dengan Jakarta. Suku Minang dan Suku Batak banyak mendiami Kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bandung, Cimahi, Bogor, Bekasi, dan Depok. Sementara itu Orang Tionghoa banyak dijumpai hampir di seluruh daerah Jawa Barat.

Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Lampung. Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia. Sekurang-kurangnya 19,91% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan/Jati Sunda. Agama Sunda Wiwitan masih bertahan di beberapa komunitas pedesaan suku Sunda, seperti di Kuningan dan masyarakat suku Baduy di Lebak Banten yang berkerabat dekat dan dapat dikategorikan sebagai suku Sunda.

Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang.[2] Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang sunda bersifat jujur dan pemberani. Orang sunda juga adalah yang pertama kali melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain. Sang Hyang Surawisesa atau Raja Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan hubungan diplomatik dengan Bangsa lain pada abad ke 15 dengan orang Portugis di Malaka. Hasil dari diplomasinya dituangkan dalam Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal. Beberapa tokoh Sunda juga menjabat Menteri dan pernah menjadi wakil Presiden pada kabinet RI.

Budaya Sunda adalah budaya yang tumbuh dan hidup dalam masyarakat Sunda. Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjunjung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat Sunda adalah periang, ramah-tamah (someah), murah senyum, lemah-lembut, dan sangat menghormati orangtua. Itulah cermin budaya masyarakat Sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk berbicara dengan orang yang lebih tua.Kebudayaan Sunda termasuk salah satu kebudayaan tertua di Nusantara. Kebudayaan Sunda yang ideal kemudian sering kali dikaitkan sebagai kebudayaan masa Kerajaan Sunda. Ada beberapa ajaran dalam budaya Sunda tentang jalan menuju keutamaan hidup. Etos dan watak Sunda itu adalah cageur, bageur, singer dan pinter, yang dapat diartikan “sembuh” (waras), baik, sehat (kuat), dan cerdas. Kebudayaan Sunda juga merupakan salah satu kebudayaan yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia yang dalam perkembangannya perlu di lestarikan. Sistem kepercayaan spiritual tradisional Sunda adalah Sunda Wiwitan yang mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Kini, hampir sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun ada beberapa yang tidak beragama Islam, walaupun berbeda namun pada dasarnya seluruh kehidupan di tujukan untuk kebaikan di alam semesta.Kebudayaan Sunda memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dari kebudayaan–kebudayaan lain. Secara umum masyarakat Jawa Barat atau Tatar Sunda, dikenal sebagai masyarakat yang lembut, religius, dan sangat spiritual. Kecenderungan ini tampak sebagaimana dalam pameo silih asih, silih asah dan silih asuh; saling mengasihi (mengutamakan sifat welas asih), saling menyempurnakan atau memperbaiki diri (melalui pendidikan dan berbagi ilmu), dan saling melindungi (saling menjaga keselamatan). Selain itu Sunda juga memiliki sejumlah nilai-nilai lain seperti kesopanan, rendah hati terhadap sesama, hormat kepada yang lebih tua, dan menyayangi kepada yang lebih kecil. Pada kebudayaan Sunda keseimbangan magis di pertahankan dengan cara melakukan upacara-upacara adat sedangkan keseimbangan sosial masyarakat Sunda melakukan gotong-royong untuk mempertahankannya.

Budaya Sunda memiliki banyak kesenian, diantaranya adalah kesenian sisingaan, tarian khas Sunda, wayang golek, permainan anak-anak, dan alat musik serta kesenian musik tradisional Sunda yang bisanya dimainkan pada pagelaran kesenian

1. Sisingaan

images

Sisingaan adalah kesenian khas sunda yang menampilkan 2–4 boneka singa yang diusung oleh para pemainnya sambil menari. Sisingaan sering digunakan dalam acara tertentu, seperti pada acara khitanan.

2. Wayang golek

Wayang-Golek

Wayang Golek adalah boneka kayu yang dimainkan berdasarkan karakter tertentu dalam suatu cerita perwayangan. Wayang dimainkan oleh seorang dalang yang menguasai berbagai karakter maupun suara tokoh yang di mainkan.

3. Jaipongan

jai

adalah pengembangan dan akar dari tarian klasik

4. Tarian Ketuk Tilu

ketuk

sesuai dengan namanya Tarian ketuk tilu berasal dari nama sebuah instrumen atau alat musik tradisional yang disebut ketuk sejumlah 3 buah.

5. Alat musik khas sunda yaitu

angklung , rampak kendang, suling,kecapi,goong,calung. Angklung adalah instrumen musik yang terbuat dari bambu , yang unik , enak didengar angklung juga sudah menjadi salah satu warisan kebudayaan Indonesia.

talempong-1-setre calung_3

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Sunda

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda

http://ms.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat

NAMA : SATRIO SEPTIONO (16112881)

KELAS : 1KA02

Advertisements

Budaya Suku Jawa

        Suku Jawa (Jawa ngoko: wong Jowo, krama: tiyang Jawi) merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. [3] Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak bermukim di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki sub-suku, seperti suku Osing, orang Samin, suku Bawean/Boyan, Naga, Nagaring, suku Tengger, dan lain-lain.[4] Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Suriname, Amerika Tengah karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa di sana dikenal sebagai Jawa Suriname.

        Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.

Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

SISTEM KEPERCAYAAN ATAU RELIGI

Agama yang dianut oleh sebagian besar suku jawa adalah Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan budha.

Pemeluk Agama Islam dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:

  1. Golongan Islam Santri, yaitu golongan yang menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran Islam dengan syariat-syariatnya.
  2. Golongan Islam Kejawen, yaitu golongan yang percaya pada ajaran Islam, tetapi tidak patuh menjalankan syariat Islam dan masih percaya kepada kekuatan lain.

Selain itu, orang Jawa masih percaya pada hal yang gaib atau kekuatan lain.

  1. Percaya pada makhluk makhluk halus seperti memedi, genderuwo, tuyul, setan, dan lain-lain.
  2. Percaya pada hari baik atau naas.
  3. Percaya pada hari kelahiran atau weton.
  4. Percaya pada benda-benda pusaka, jimat, dan sejenisnya.

Sehubungan dengan berbagai kepercayaan, maka dilaksanakan upacara-upacara selametan sebagai berikut:

  1. Upacara selametan yang berhubungan dengan lingkaran hidup manusia, seperti mitoni, kematian, dan lainnya.
  2. Upacara selametan yang berhubungan dengan kehidupan desa, seperti bersih desa, penggarapan pertanian, dan lainnya.
  3. Upacara selametan yang berhubungan dengan pernikahan, seperti selamatan setelah

pernikahan.

  1. Upacara selametan yang berhubungan dengan peringatan hari-hari atau bulan bulan besar Islam, seperti sekatenan atau grebeg maulud, sura, dan sebagainya.
  2. Upacara selametan yang berhubungan dengan kejadian kejadian tertentu, seperti melakukan perjalanan jauh, mulai membuat rumah, dan sebagainya.
  3. Upacara selametan yang berhubungan dengan orang meninggal dunia, seperti selametan surtanah atau  (geblak), nelung dina, dan lainnya.

SENI

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

Tempat Wisata yang terkenal adalah MALIOBORO

Dan BOROBUDUR

malioboro

Jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

1342464418444093777

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha.[1] Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa

http://sugengcido.blogspot.com/2012/01/kebudayaan-suku-jawa.html#axzz2SoCihnc0

https://id.wikipedia.org/wiki/Borobudur

NAMA : SATRIO SEPTIONO
KELAS : 1KA02
NPM : 16112881

ANGKLUNG

 1558342620X310 angklung

Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010. Angklung adalah mitologi dari Bahasa Bali, yaitu Ang yang berarti angka (berupa not) dan klung yang berarti rusak. Jadi, jika digabungkan angklung berarti angka yang rusak.

Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara. Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Perkembangan Musik Angklung

Dalam perkembangannya musik angklung perlahan mulai berubah dan beradaptasi dengan perkembangan jamannya. Mulai dari jaman dimana manusia memanfaatkan bambu sebagai alat utama mereka untuk bertahan hidup, masuknya budaya China, penyiaran agama Islam, masuknya budaya barat ke Indonesia, sampai pada jaman modern ini.
Pada masa modern ini, perkembangan musik angklung mulai berubah. Itu berawal dari Daeng Sutisna yang berhasil mengubah tangga nada petatonis menjadi diatonis (do,re,mi,fa,sol,la,si,do) pada tahun 1983. Dan perkembangan itu pun terjadi, misalnya pada KTT Asia Afrika di Bandung, Jawa Barat. Musik Angklung modern dimainkan untuk acara resmi dalam Indonesia Ultimate Diversity tersebut, yaitu dalam lagu Indonesia Raya dan beberapa lagu daerah yang terkenal seperti Rasa Sayange, Ayo Mama, Burung Kakak Tua dan Bebek Angsa.

Pada jaman yang modern ini pula, kita masih dapat bersuka cita merasakan uniknya musik angklung di suatu saung angklung yaitu Saung Angklung Udjo (SAU) D i Bandung, Jawa Barat, tepatnya di Jl. Padasuka 118 Bandung. Saung Angklung Udjo, merupakan angsana singgasana angklung terbesar di dunia yang merupakan mahakarya dari Udjo Ngalagena, yang dibangun pada tahun 1961. Angklung yang terbuat dari bambu hitam (wulung) tersebut merupakan angklung bertangga nada diatonis yang dapat memainkan melodi lagu-lagu tradisional maupun modern, serta dapat mengiringi melodi-melodi lagu tersebut.

Teknik Permainan Angklung

Memainkan sebuah angklung sangat mudah. Seseorang tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. Dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyang angklung:

  • Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, dimana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.
  • Centok (sentak), adalah teknik dimana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).
  • Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabug ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarka nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).

Berita Seputar Angklung

Kekurangan Bambu Sulitkan Perkembangan Angklung

INILAH, Bandung – Pengurus Saung Angklung Udjo Sam Udjo mengingatkan damapak dari ditetapkan angklung sebagai warisan dunia oleh Unesco.

“Angklung sekarang sudah diatur dan dikukuhkan Unesco sebagai heritage budaya benda dunia. Semua negara bisa menggunakan angklung seperti layaknya setiap orang memakai alat musik gitar, drum, atau keyboard,” kata Sam disela-sela Festival Musik Bambu Indonesia di Pasteur Hyper Point Jalan DR Djundjunan Kota Bandung, Sabtu (16/2/2013).

Dia mengatakan, selain penggunaanya, ketersediaan bahan untuk membuat angklung juga menjadi masalah. Untuk mendapatkan bahan baku angklung berkualitas baik sangat sulit didapat.

“Dibutuhkan tidak kurang 60.000 awi hideung setiap tahunnya. Namun jenis bambu tersebut semakin berkurang kuantitasnya,” keluhnya. [ito]

Video
Angklung “Heal the World” in UQ, Australia

Sejak angklung diumumkan menjadi warisan budaya UNESCO, perkembangan musik angklung menjadi sangat cepat. Kini angklung dikenal di seluruh dunia, banyak negara-negara luar yang memainkan alat musik tersebut. Amerika menciptakan rekor muri sebagai  Pemecahan Rekor Dunia Angklung di Washington, AS. Selain itu di sisi positif nya perkembangan yang begitu pesat tapi ada sisi buruk bagi musik angklung. Untuk membuat alat musik ini diperlukan bambu yang berkualitas baik dan sekarang bambu yang berkualitas baik itu mulai jarang ditemukan, apakah mungkin kita harus meng-impor bambu dari Negara Tirai bambu yaitu Cina untuk memenuhi pesanan produk angklung ini yang berkembang pesat

Sumber :
http://davidclaudius.wordpress.com/2009/11/16/sejarah-tentang-angklung/
http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung
http://m.inilah.com/read/detail/1958742/kekurangan-bambu-sulitkan-perkembangan-angklung

NAMA            : SATRIO SEPTIONO

KELAS           : 1 KA02

NPM               : 16112881

Tari Pendet

https://i0.wp.com/cdn.ridwanaz.com/wp-content/uploads/2012/03/Tari-Pendet-Seni-Tari-dari-Bali-Sejarah-Tari-Pendet-2.jpg https://frawyerify.files.wordpress.com/2013/04/ddffa-taripendet.jpg

Pulau Dewata dengan masyarakatnya yang cinta akan seni, karya-karya yang luar biasa. Masyarakat bali melekatkan agama sebagai seni, tarian sebagai pengiring cerita religius. luar bisa, salah satu tarian tertua dari bali adalah tari pendet, yang akan saya coba untuk diulas di artikel ini.

Tari Pendet termasuk dalam jenis tarian wali, yaitu tarian Bali yang dipentaskan khusus untuk keperluan upacara keagamaan. Tarian ini diciptakan oleh seniman tari Bali, I Nyoman Kaler,pada tahun 1970-an yang bercerita tentang turunnya Dewi-Dewi kahyangan ke bumi. Meski tarian ini tergolong ke dalam jenis tarian wali namun berbeda dengan tarian upacara lain yang biasanya memerlukan para penari khusus dan terlatih, siapapun bisa menarikan tari Pendet, baik yang sudah terlatih maupun yang masih awam, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Pada dasarnya dalam tarian ini para gadis muda hanya mengikuti gerakan penari perempuan senior yang ada di depan mereka, yang mengerti tanggung jawab dalam memberikan contoh yang baik. Tidak memerlukan pelatihan intensif.

Pada awalnya Tari Pendet merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di Pura, yang menggambarkan penyambutan atas turunnya Dewa-Dewi ke alam marcapada, merupakan pernyataan persembahan dalam bentuk tarian upacara. Lambat laun, seiring perkembangan zaman, para seniman tari Bali mengubah tari Pendet menjadi tari “Ucapan Selamat Datang”, dilakukan sambil menaburkan bunga di hadapan para tamu yang datang, seperti Aloha di Hawaii. Kendati demikian bukan berarti tari Pendet jadi hilang kesakralannya. Tari Pendet tetap mengandung anasir sakral-religius dengan menyertakan muatan-muatan keagamaan yang kental.Dan tari pendet disepakati lahir pada tahun 1950.

Tari Pendet Sakral

Biasanya Tari Pendet dibawakan secara berkelompok atau berpasangan oleh para putri, dan lebih dinamis dari tari Rejang. Ditampilkan setelah tari Rejang di halaman Pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih). Para penari Pendet berdandan layaknya para penari upacara keagamaan yang sakral lainnya, dengan memakai pakaian upacara, masing-masing penari membawa perlengkapan sesajian persembahan seperti sangku (wadah air suci), kendi, cawan, dan yang lainnya.

Tarian ini merupakan tarian yang dibawakan oleh sekelompok remaja putri, masing-masing membawa mangkuk perak (bokor) yang penuh berisi bunga. Pada akhir tarian para penari menaburkan bunga ke arah penonton sebagai ucapan selamat datang.

Tari Pendet Penyambutan

Di samping belum ada lembaga hak cipta, tari Bali selama ini tidak pernah dipatenkan karena mengandung nilai spiritual yang luas dan tak bisa dimonopoli sebagai ciptaan manusia atau bangsa tertentu. Dalam hal ini, I Ketut Sutapa, dosen seni tari Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengharapkan pemerintah mulai bertindak untuk menyelamatkan warisan budaya nasional dari tangan jahil negara lain.

Kesalahan pemerintah

Merunut dari sejarah, tari pendet telah lama mengakar dalam budaya Bali.Wayan Dibia, guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, mengatakan, tari pendet merupakan salah satu tarian yang paling tua di antara tari-tarian sejenis yang ada di Pulau Dewata. Pada 1961, I Wayan Beratha mengolah kembali tari pendet tersebut dengan pola seperti sekarang, termasuk menambahkan jumlah penarinya menjadi lima orang. Berselang setahun kemudian, I Wayan Beratha dan kawan-kawan menciptakan tari pendet massal dengan jumlah penari tidak kurang dari 800 orang, untuk ditampilkan dalam upacara pembukaan Asian Games di Jakarta.

Kasus klaim Malaysia atas budaya Nusantara ini memang bukan yang pertama. Dan, boleh jadi pula tidak akan menjadi yang terakhir. Bagi budayawan, Radhar Panca Dahana, klaim budaya Indonesia oleh Malaysia untuk kesekian kalinya merupakan kesalahan Pemerintah Indonesia sendiri. ”Ya tidak apa-apalah, kita juga suka mengambil budaya lain untuk promosi,” katanya kepada Republika.

Berita Seputar Batik
Presiden Prancis Terpesona dengan Tari Pendet

 

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Preiden Prancis terpukau menyaksikan salah satu kesenian asli Indonesia. Francois Hollande terpesona melihat tari pendet yang disuguhkan sebagai ucapan selamat datang di stand Indonesia dalam pameran Foire de Chalons en Champagne ke-66 di Region Champagne Arden, Prancis, baru baru ini.

Kunjungan Presiden Francois Hollande di stand Indonesia sebagai negara kehormatan disambut Duta Besar RI Paris Rezlan Ishar Jenie, ujar Minister Conseiller KBRI Paris Arifi Saiman, Jumat. Saiman menjelaskan, kunjungan Presiden Prancis ke stand Indonesia memberikan arti tersendiri pada pameran produk pertanian, peternakan, kerajinan dan furniture yang diikuti 765 peserta. Selama pameran, stand Indonesia menampilkan pergelaran seni tari yang menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung pameran yang berlangsung di Region Champagne Arden, Prancis.Dikatakannya, para pengunjung memberikan apresiasi yang tinggi atas keindahan dan keluwesan gerak tari dari setiap tarian yang dimainkan para penari. Bahkan, pada persembahan tari Tayub, para pengunjung sangat antusias menerima ajakan para penari untuk turun melantai menarikan tarian tradisional asal Jawa Barat ini.Tarian Indonesia yang ditampilkan selama pameran meliputi tari tradisional dari daerah Jawa Timur, Bali, Betawi, Jawa Barat dan Sumatera Barat. Tarian tersebut diantaranya tari Pendet, tari Topeng Pajegan, tari Joget Bumbung, tari Joget Bumbung dan tari Tambulilingan dari Bali.

Perseteruan soal kekayaan budaya dengan Malaysia sebenarnya bisa dipahami atas kesalahan siapa?. Yang jadi masalah jika pemerintah dan rakyat Indonesia baru berkoar-koar setelah Malaysia mengklaim. Tari pendet bagi rakyat Indonesia berpendapat bahwa itu adalah urusan pulau bali sehingga mereka kurang peduli, kepedulian pemerintah juga yang sangat kurang. Dan setelah diklaim, barulah kita sadar & marah. Kontroveri Tari Pendet yang menghebohkan itu mungkin telah selesai dengan permintaan maaf dari pihak discovery channel. Klaim terus saja berlangsung, kini Tari TOR-TOR hingga makanan dari Sumatera Barat yaitu rendang diklaim oleh Malaysia. ini adalah pelajaran buat kita, kita harus melestarikan budaya Indonesia. Ya itulah Indonesia belum terjadi maka belum ada tindakan, sesudah ada berita klaim barulah Indonesia sadar kembali.

Sumber
http://www.republika.co.id/berita/senggang/seni-budaya/12/09/07/m9yv3m-presiden-prancis-terpesona-dengan-tari-pendet
http://gentra.lk.ipb.ac.id/2010/03/sejarah-tari-pendet/

NAMA : SATRIO SEPTIONO
KELAS : 1KA02
NPM : 16112881

Bagi mempelai yang memilih pernikahan a la tradisional Jawa, hampir dapat dipastikan memilih kain batik untuk melengkapi busana pengantinnya. Seperti juga berbagai tata cara dalam rangkaian upacara tradisional Jawa yang sarat makna, corak kain pengantin tradisional juga memiliki makna, nilai serta filosofi yang berbeda satu dengan lainnya. Oleh karena itu, seorang mempelai sebaiknya memahami terlebih dahulu corak atau motif apa saja yang umum digunakan dalam pernikahannya dan tidak hanya memilih kain batik pengantin hanya berdasarkan keindahan coraknya saja.

Kain Batik Pengantin

Dalam acara pernikahan, dianjurkan agar mempelai menggunakan kain batik bermotif yang diawali dengan kata ‘sida/sido’ yang berarti ‘jadi’. Beberapa motif berawalan sido antara lain Sidomulyo, Sidoluhur, Sidoasih, Sidomukti dan Sidowirasat. Apabila kurang ‘sreg’ dengan corak kain berawalan sido tersebut, calon mempelai boleh mempertimbangkan motif lainnya seperti Truntum, Semen Gurdha, Semen Rama, Semen Jlekithet atau Wahyu Tumurun. Yang perlu diingat adalah calon mempelai jangan sekali-kali memilih motif Parang Rusak, karena dipercaya mengandung makna negatif kerusakan dan malapetaka.

Berikut ini berbagai motif kain batik pengantin beserta makna dan harapan yang terkandung di dalamnya:

Sido Mulyo

Kain batik pengaruh Kraton yang berasal dari daerah Banyumas ini pantas dikenakan oleh mempelai pria maupun wanita dan memiliki makna hidup dalam kemuliaan, kebahagiaan serta limpahan rejeki.

Sido Luhur

Batik dari daerah Kraton Surakarta ini memiliki makna keluhuran atau budi luhur yang dijunjung tinggi dalam hidup. Keluhuran yang dimaksud adalah keluhuran secara lengkap, baik materi maupun non materi. Keluhuran materi mengandung makna hidup berkecukupan, mencukupi segala kebutuhan ragawi dengan bekerja keras sesuai pekerjaan, jabatan, pangkat / derajat maupun profesinya. Sedangkan keluhuran non materi antara lain terdiri dari keluhuran budi, tindakan serta ucapan. Corak batik Sidoluhur ini sangat cocok digunakan oleh mempelai wanita di malam pengantin.

Kain Batik Sido

Sido Asih

Corak Sidoasih berasal dari daerah Kraton Surakarta dengan makna harapan agar hidup rumah tangga kedua mempelai selalu dipenuhi kasih sayang. Kain batik dengan motif ini juga cocok digunakan mempelai wanita di malam pengantin.

Sido Mukti

Jenis batik petani dari daerah Surakarta ini biasanya dikenakan mempelai pria dan wanita saat resepsi berlangsung. Corak kain batik ini memiliki makna tercapainya mukti atau kemakmuran dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Kain batik yang bernama lain Sawitan (sepasang) ini juga melambangkan doa dan harapan terciptanya masa depan yang penuh kebaikan.

Sido Wirasat

Dalam corak kain batik Sidowirasat biasanya disertai dengan paduan motif truntum. Motif ini menjadi simbol nasehat yang selalu diberikan orang tua untuk menuntun kedua mempelai dalam memasuki mahligai hidup berumahtangga.

Truntum

Motif kain batik Kraton yang berasal dari daerah Kraton Surakarta ini pada umumnya dikenakan oleh orang tua mempelai. Corak Truntum memiliki arti menuntun kedua mempelai memasuki lika liku kehidupan rumah tangga yang baru.

Ratu Ratih – Semen Rama

Motif batik kembar sepasang (sawitan) ini umumnya dikenakan pasangan mempelai sebagai lambang kesetiaan istri terhadap suaminya. Motif Semen sendiri biasanya merupakan penggambaran dari kehidupan yang bersemi, berkembang atau makmur. Beberapa ornamen utama yang ada dalam motif ini adalah ornament yang berhubungan dengan daratan, lautan, udara serta ornamen yang berhubungan dengan paham Triloka atau Tribawana (3 dunia: dunia tengah tempat hidup manusia, dunia atas tempat para dewa dan para suci, dunia bawah tempat yang dipenuhi angkara murka).

Motif Batik Pengantin

Wahyu Tumurun

Kain batik bermotif Wahyu Tumurun mengandung makna dan harapan agar orang yang mengenakannya memperoleh anugerah kebahagiaan dari Sang Pencipta di masa mendatang.

Selain dimaknai berdasarkan corak atau motifnya, kain batik juga memiliki makna tersendiri dilihat dari warnanya.

Berikut ini beberapa warna kain batik yang banyak digunakan berikut maknanya:

Warna Coklat

Melambangkan sifat yang penuh kehangatan, mem ‘bumi’, kesederhanaan serta kebangkitan dari rasa rendah diri.

Warna Biru Tua

Mengenakan kain batik berwarna biru tua menggambarkan kesetiaan, keiklasan, kelembutan serta ketenangan.

Warna Putih

Warna putih biasanya muncul pada batik bercorak Yogyakartan. Warna ini menggambarkan kesucian, ketenteraman hati, keberanian, rasa tidak bersalah serta sifat pemaaf dari pemakainya.

Warna Kehitam-hitaman

Melambangkan ketenangan, rasa percaya diri, keberanian, kekuatan, kewibawaan serta dominasi. (Team PreWed)

 

Surabaya (ANTARA News) – Masyarakat Jawa Timur selama ini memiliki beragam batik pernikahan yang dapat digunakan lamaran hingga resepsi pernikahan dengan nilai seni dan filosofi yang beragam, kata Ketua Komunitas Batik Jatim di Surabaya (KIBAS), Lintu Tulisyantoro.

“Selain memiliki nilai seni, batik sebagai salah satu kekayaan budaya kita itu memiliki filosofi juga,” ujarnya di Surabaya, Sabtu.

Menurut pemerhati batik dari Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya itu, filosofi batik itu digambarkan dalam motif yang berbeda-beda di seluruh daerah di Indonesia.

“Kain batik yang dipakai untuk event pernikahan atau batik for wedding pun memiliki filosofi yang tergambar dalam motif yang ada,” kata dosen Desain Interior UKP Surabaya itu.

Oleh karena itu, dirinya memperkenalkan berbagai nilai seni dan filosofi batik itu dalam berbagai diskusi, pameran, dan demonstrasi membatik, misalnya, pameran “BATIK TULIS-tyantoro 4 Wedding” di Perpustakaan UKP pada 15 Februari hingga 15 Maret 2013.

Dalam pameran itu, ia membawa 17 koleksi batik khusus pernikahan dari Pamekasan, Tuban, Tulungagung, Sidoarjo, dan sebagainya.

“Batik Sabet Rante dari Pamekasan berfungsi untuk lamaran yang memiliki motif tentang simbol ikatan janji cinta antara laki-laki dan perempuan. Ikatan itu digambarkan dengan rante (rantai),” katanya.

Atau, Batik Tong-Centong dari Pamekasan yang berfungsi untuk pernikahan. “Centong adalah alat untuk mengambil nasi, sehingga centong adalah janji laki-laki untuk memberi penghidupan,”

Hal yang mirip juga terlihat dalam motif Batik Semen dari Tulungagung yang berfungsi untuk pernikahan. “Semen berasal dari kata semi yang mengandung pengharapan datangnya kemakmuran,” katanya.

H menarik, dikemukakannya, adalah Batik Sigar Tahu Mahkota dari Sidoarjo yang berfungsi untuk pernikahan.

“Itu merupakan simbol keseimbangan yang berujung pada kesejahteraan,” katanya.

Namun, Batik Sigar Tahu Mahkota itu dikenal sebagai batik pagi-sore.

“Batik pagi-sore berarti batik yang bisa dipakai pagi dan sore, karena ada motif pagi dan motif sore yang disatukan,” katanya.

Editor: Priyambodo RH
Sumber :

http://www.antaranews.com/berita/363590/jatim-miliki-beragam-batik-pernikahan

http://www.preweddingkuok.com/kebaya/kain-batik-pengantin-701.htm

Kain asal khas indonesia ini bisa sangat cantik jika dibuat gaun pengantin. perkembangan busana pengantin ini adalah busana modern dengan tingkat seni yang tinggi, busana gaun pengantin ini menjadi trend baru dalam acara pernikahan. Jika ingin terlihat tampil berbeda saat hari pernikahan, cobalah gunakan gaun batik selain tampil berbeda juga dapat sanjungan / pujian dari orang-orang. Gaun pengantin batik itu sendiri juga dapat mencerminkan kepribadian seseorang dari adat mana dia berasal.

NAMA  : SATRIO SEPTIONO
KELAS  : 1KA02
NPM      : 16112881